Belajar bukan hanya di Tempat yang Mewah

Belajar bukan hanya di Tempat yang Mewah

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hellloooo guys balik lagi di channel website saya ngomongdikit.com, jangan bosen ya mantengin channel ini. Terimakasih sudah menyempatkan diri buat membaca artikel-artikel saya dari awal hingga artikel ini, semoga tulisan-tulisan saya bisa mendapat wawasan yang lebih banyak lagi dan semoga bisa menginspirasi kalian semua.
Di sini aku mau bicara tentang kuliah, apa yang ada di pikiran kalian tentang perkuliahan? Dosen killer? Kampus gedhe? Kampus populer? Teman dari berbagai daerah? IPK yang bagus? Lulus dengan predikat caumlaude? Temen-temen hitz? Tugas numpuk? Dikejar deadline? BEM?, dan masih banyak lagi. Yoooksss bahas dikit tentang kuliahku, cekidooots.

Manusia Sok Kuasa namun Allah Berkuasa

bangunan tua, gerbang, lampu, dinding
Image by picograpy by pixabay

Aku seperti anak SMA pada umumnya, ketika sudah mau kelulusan pasti sudah memutuskan mau masuk jurusan apa begitupun aku. Cita-citaku pengen masuk jurusan bahasa inggris kalau nggak gitu ya sejarah. Setelah UNBK anak kelas 3 SMA di ributkan dengan mendaftar ke universitas yang diinginkannya begitu juga aku.
Keinginanku pengen masuk ke salah satu universitas negeri di solo. Universitas yang diidam-idamkan setiap orang. Karena kualitas pendidikannya tidak diragukan lagi dan bebrbagai sebab lainnya kenapa banyak yang berminat di universitas ini dan aku nggak mungkin mengekposnya satu-satu karena keterbatasnya waktu (halah alasan bilang aja males :V).
SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SBMPTN ( Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) telah lewat. Pengumuman SNMPTN pun sudah keluar, memang terkadang apa yang kita rencanakan berbelok dari rencana Allah. SBMPTN pun hasilnya telah keluar, tapi ternyata hasilnya juga tak ssesuai keinginan.
Kita boleh berencana namun bukankah Allah sebaik-baik perencana? Terpuruk? pasti itu yang aku rasakan, tapi apa boleh buat ini yang terbaik dari-Nya. Teman-temanku yang diterima di Universitas tersebut hanya sedikit, sedangkan yang tak di terima pindah mendaftar ke universitas lain yangpreluang diterimanya lebih besar.
Ketika teman-temanku sibuk mengurusi berkas-berkas kuliah, aku hanya bisa bengong dengan muka bingung mau lanjut kuliah di mana. Teman-temanku menyuruhku masuk ke universitas tersebut namun aku menolak karena tak yakin bidikmisi bisa keterima.

Mau ambil apa yang keambil apa

jalan, domba, gunung, padang rumput, 3 domba
Photo by Amelie Lachapelle from Pexels

Hari berlanjut seperti biasa, aku masih di ambang kebimbangan. Hingga suatu hari aku di tanya oleh salah satu temanku. Dia memintaku untuk kuliah di mana dia akan kuliah. Di ma’had salah satu kampus di surakarta. Aku pun menyetujuinya karena biayanya tak begitu mahal di banding universitas lain.
Di kampus tersebut hanya ada 2 jurusan yaitu tahfidz Qur’an dan bahasa arab, karena aku sedikit lamban dalam hafalan maka aku mengambil program bahasa arab. Berbalikan memang dari jurusan yang kuinginkan tapi tak apa aku juga menyukai bahasa arab.

Masuk Kuliah

Di kampus pada umumnya kelas laki-laki dan perempuan di campur, tapi di kampusku berbeda laki-laki dan perempuan dipisah tak hanya kelasnya yang terpisah tapi juga bangunananya. Kampus laki-laki terletak kurang lebih 1 KM dari kampus putri.
Tujuan dari di jauhkannya putri dan putra karena agar tak terjadi fitnah. Dan agar tak ada gangguan yang menyebabkan terganggunya kegiatan belajar mengajar.
Kampusku memang berbeda dari kampus lainnya. Tapi bukan berarti kualitas pendidikannya rendah, karena kurikulum kami sama dengan kurikulum di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan dan bahasa Arab). Di mana para tenaga pengajarnya dari luar negeri sedangkan kampusku tenaga pengajarnya lulusan University of Al-Azhar di cairo, Mesir dan tenga pengajarnya juga di ambil dari lulusan LIPIA.
Di kampusku yang mengajar hanya ustadzah, tidak ada seorang ustadz pun karena memang di sterilkan dari makhluk bernama laki-laki. Jadi di keseharian kehidupan di kampus tidak akan kamu dapati seorang laki-laki kecuali seorang tukang.
Kembali ke ceritaku…..

Sekarang aku berdiri di bawah bangunan yang menjulang tinggi ini (walau tak setinggi kampus lainnya). Kampus ini akan menjadi saksi bisuku untuk 2 setengah tahun ke depan, saksi bisuku untuk semua perjuanganku.
Kumantapkan niatku sepenuh hati untuk melangkah ke kampus tersebut. Bismillah semoga menjadi awal yang baik untukku dan untuk orang-orang di sekitarku.
Kampus tersebut ada 3 lantai dan 7 ruang kelas di mana masing-masing . Memang tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk belajar. Di lantai 2 terdapat perpustakaan dan di lantai 1 terdapat musholla.
Bukan Kampus pada Umumnya
Karena kampusku memang berbeda dari kampus pada umumnya. Di kampus kami di biasakan untuk berbicara mengunakkan bahasa arab agar kami lebih mudah memahami bahasa arab. Sistem kampus hampir sama dengan sistem pondok, di mana yang ketahuan tidak memakai bahasa arab akan di hukum.
Kami juga tidak menggunakkan laptop untuk belajar, kami mengunakkan pensil, bolpen dan buku. Jangan heran inilah kampusku, kampus yang jauh berbeda dari kampus pada umumnya. Kampus kami tidak ada kelas sore hanya ada kelas pagi saja dan itu hingga jam 12.30.
Di jurusanku ada 4 semester dan jika lulus maka dapat gelarnya D2 dan insyaAllah bergelar istri solihah :V. Kampus kami memang bukan kampus populer tapi kampus kami kualitas pendidikannya mantull (mantapp betull).

Ketika Kampus hanya Dijadikan eksistensi belaka

 

mahkota, berlian
images by public domain picttures from pixabay

 

Pada zaman sekarang kampus hanya di jadikan sebagai eksistensi belaka atau sebagai tempat untuk eksis belaka agar orang-orang menggaguminya karena dia belajar di kampus yang terkenal. Banyak orang seperti itu.
Tapi ya guyyyssss perlu diketahui bahwa kuliah di kampus yang bagus itu belum tentu dia lebih bagus ilmunya dari kamu. Mungkin bisa jadi nama kampusnya aja yang tenar yang bagus tapi ilmunya nol besar nggak ada atau kosong. Kampusmu bukan berarti kamu, tetapi kamu adalah hasil ciptaan kampusmu.
Jadi, di manapun tempatmu berkuliah atau tempatmu belajar jangan pernah malu. Karena seburuk apapun tempatmu belajar dia telah berjasa padamu, dia telah memberimu kenyamanan untuk belajar.
Jadikan tempatmu belajar menjadi tempat kembali ternyaman ke 2 setelah rumah
Kampusmu adalah tempat belajarmu bukan tempat kamu memamerkan dirimu
Belajarlah di manapun kamu bisa belajar jangan minder dan jangan malu karena ilmumu yang paling penting bukan tempatmu belajar.
Jika kamu belajar di kampus yang begitu populer namun kamu tidak bisa menyerap ilmunya lalu apa yang kamu banggakan dari kampus itu? Nama tenar kampus itu? Mau kamu apakan namanya? Kamu coreng?. Jika kamu bangga dengan kepopuleran kampus tersebut seharusnya kamu bisa lebih rajin dalam menyerap dan memahami ilmu yang di ajarkan di situ karena dengan begitu kampusmu akan begitu bangga padamu.
Carilah ilmu yang bermanfaat, yang bisa membangun negara ini, bisa memajukkan negara dan bangsa, serta bisa menguatkan pertahanan bangsa ini. Ijazah atau sertifikat pendidikan itu bukan bukti kamu pernah belajar tetapi bukti atau tanda kamu pernah belajar itu ketika kamu bisa bermanfaat bagi umat dan orang sekitar lingkunganmu.
Sekian tulisan dari saya mohon maaf jika ada banyak salah kata. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi anda semua.
Saya masih membutuhkan saran dan kritik anda. Saran dan kritik anda akan sangat membangun.
Jazakunnallahu khoiron katsiron untuk para readers yang setia mmbaca arikel saya. Jangan bosan ya baca artikel saya.
Wassallamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 😉.

Leave a Comment